Terobosan Baterai EV dari Perusahaan Minyak Terbesar di Amerika

by -169 Views

Pada tahun 1970-an, Stanley Whittingham dari ExxonMobil menemukan baterai lithium-ion, yang kini menjadi sumber tenaga untuk berbagai perangkat mulai dari iPhone hingga Tesla. Meskipun minat Exxon terhadap energi terbarukan mulai memudar, perusahaan lain terus maju dalam pengembangan teknologi lithium-ion. Saat permintaan global atas minyak melambat, Exxon kembali berinvestasi di energi terbarukan dengan mengembangkan grafit sintetis baru yang dapat meningkatkan masa pakai dan kinerja baterai mobil listrik. Diklaim dapat memperpanjang masa pakai hingga 30%, grafit ini juga berdampak pada kinerja dan efisiensi baterai, memberikan jangkauan yang lebih luas dan kecepatan pengisian yang lebih cepat.

Exxon baru-baru ini mengakuisisi perusahaan pemrosesan grafit, Superior Graphite, untuk membangun rantai pasokan grafit sintetis yang kuat. Grafit merupakan bahan penting dalam anoda baterai lithium-ion, sehingga kualitasnya sangat berpengaruh terhadap kinerja baterai secara keseluruhan. Meskipun Cina menguasai sebagian besar pasokan global grafit, Exxon mengklaim bahwa grafit sintetis mereka lebih konsisten kualitasnya dan mengurangi kerja keras penambangan dengan memanfaatkan bahan baku yang ada.

Sementara pemerintahan Trump memangkas subsidi untuk energi bersih, perusahaan minyak seperti Exxon mulai mencari sumber pendapatan alternatif dengan fokus pada energi terbarukan. Investasi besar juga dilakukan dalam produksi lithium dalam negeri, dengan proyek pertama Exxon direncanakan di Arkansas untuk memasok lithium ke produsen baterai Korea. Langkah serupa juga dilakukan oleh gergasi minyak lainnya seperti Shell dan BP yang sedang mengembangkan stasiun pengisian daya mobil listrik. Dengan pergeseran kendaraan listrik yang menggantikan bahan bakar tradisional, perusahaan minyak siap untuk terlibat dalam masa depan energi yang berkelanjutan.

Source link