Penguasaan Teknologi Digital Jadi Faktor Strategis Negara

by -85 Views

Dalam sebuah pertemuan ilmiah tingkat internasional yang berfokus pada isu global mahasiswa pascasarjana Hubungan Internasional di Universitas Indonesia, Dr. Sulistyo, deputi di Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN), memberikan pandangan penting mengenai peran strategis dari dunia maya (cyberspace). Ia menjelaskan bahwa lingkungan digital berbeda sepenuhnya dari ranah fisik tradisional seperti darat dan laut, karena sifatnya yang tanpa batas geografis, tidak mengenal yurisdiksi tunggal, serta kekosongan otoritas mutlak.

Menurutnya, ruang digital menawarkan sebuah lanskap baru: tidak ada pembatasan siapa peserta atau asal ancaman, sehingga karakter lintas batas ini membawa pengaruh besar bagi keamanan serta stabilitas internasional. “Konsep kedaulatan klasik tidak lagi dapat diterapkan di dunia maya secara sederhana, sebab serangan cyber dan tindakan subversif dapat dilakukan dari manapun dan oleh siapapun, serta menembus batas negara tanpa dapat dicegah dengan alat lama,” paparnya dalam pidato itu.

Konsekuensi nyata dari ruang digital yang tak terbatas ini adalah tantangan akut bagi negara dalam mempertahankan kedaulatan. Ancaman tak terlihat—mulai dari pencurian data, peretasan infrastruktur penting, sampai penyebaran propaganda daring—dapat tiba-tiba melintas batas nasional hanya dalam sekejap. Atribusi pelaku kejahatan menjadi sulit, proses hukum sering terhalangi, begitu pula koordinasi respons di tingkat global.

Negara-negara pun kini terpaksa memikirkan ulang bagaimana cara melindungi kepentingan nasional mereka pada wilayah yang tidak kasat mata. Akibat ruang digital yang bebas hambatan, para aktor di luar negara, seperti hacker kriminal atau pihak sponsor negara lain, dapat dengan mudah menyusup dan melakukan aksi lintas negara tanpa harus menghadapi penjagaan perbatasan secara fisik.

Karena dominasi dunia digital semakin besar, Dr. Sulistyo juga mencatat bahwa kategori-kategori ancaman di masa lalu telah berubah. Perang siber bisa terjadi tanpa pengumuman, tanpa pengerahan pasukan, namun sanggup melumpuhkan layanan publik dan keuangan, hingga mengguncang sistem politik lokal maupun stabilitas kawasan. Arena bersaing bagi negara-negara besar kini beralih ke penguasaan teknologi digital, kecerdasan buatan, kemampuan komputasi canggih, serta jaringan telekomunikasi termutakhir.

Menanggapi realitas siber yang tidak mengenal batas, Indonesia berupaya mengokohkan posisi melalui diplomasi siber aktif yang mengedepankan kepentingan negara berkembang. Indonesia memprioritaskan pengelolaan ruang digital global secara terbuka dan kolaboratif, agar tidak jatuh menjadi ajang persaingan negara kuat semata.

Indonesia aktif membawa inisiatif di berbagai organisasi internasional, mulai dari ASEAN hingga PBB, untuk merumuskan norma dan tata krama baru di ranah siber, mendorong pembangunan mekanisme respon bersama terhadap ancaman lintas negara, serta memperkuat kapasitas kolektif di tingkat regional untuk menghadapi insiden siber. Upaya ini pun melibatkan peningkatan kepercayaan antarnegara, termasuk membangun kesepahaman mengenai mekanisme penanganan cyber threats.

Pada kesempatan yang sama, Dr. Sulistyo menggarisbawahi bahwa kekuatan bangsa menghadapi tantangan digital bergantung pada tiga strategi utama. Pertama, pembangunan pertahanan siber nasional yang modern, meliputi pengembangan sistem dan infrastruktur adaptif yang mampu mengantisipasi perkembangan ancaman. Kedua, pemantapan kerja sama internasional yang erat agar setiap negara dapat berbagi informasi serta sumber daya secara efektif, sebab tak satu negara pun dapat mengatasi tantangan ini secara soliter. Ketiga, investasi besar-besaran pada penciptaan tenaga ahli siber yang mumpuni untuk menjaga keamanan bangsa di tengah arus globalisasi teknologi.

Ia menutup penjelasan dengan menekankan bahwa dalam konteks ruang siber tanpa pagar ini, keamanan dalam negeri setiap bangsa saling terkait erat satu sama lain. “Keamanan di dunia digital secara hakiki adalah bagian tak terpisahkan dari keamanan global,” tegas Dr. Sulistyo, menyoroti pentingnya solidaritas dan adaptasi bersama menghadapi era pergeseran ancaman ke wilayah virtual.

Sumber: Ruang Siber Yang Borderless Mengubah Peta Keamanan Internasional, Ini Sikap Indonesia
Sumber: Ruang Siber Yang Borderless Dan Implikasinya Bagi Keamanan Internasional: Perspektif Indonesia