Wahdi Azmi: Pendekatan Terintegrasi Ciptakan Dampak Besar

by -78 Views

Ketika isu konservasi naik ke permukaan, mayoritas perhatian biasanya tertuju pada penyelamatan satwa langka dan perlindungan hutan. Laporan sering membahas populasi hewan yang terancam, ekosistem yang terdegradasi, serta konflik antara manusia dan satwa liar. Namun, menurut Wahdi Azmi—seorang dokter hewan sekaligus pelaku konservasi berpengalaman di Sumatera—topik ini sebenarnya jauh lebih kompleks dari yang tampak. Wahdi menegaskan bahwa satu elemen kunci sering terlupakan: peran manusia dalam rantai ekosistem.

Dalam sesi Leaders Talk Tourism yang fokus pada surat edaran terkait konservasi, Wahdi menyoroti pentingnya keterlibatan masyarakat. Ia menegaskan bahwa keberlanjutan upaya konservasi tidak cukup jika hanya berfokus pada aspek perlindungan satwa. Bagi Wahdi, apabila masyarakat di sekitar kawasan konservasi tidak memperoleh manfaat nyata, maka upaya perlindungan alam akan selalu mendapatkan tantangan dan bahkan bisa berbalik menjadi sumber konflik baru.

Pengalaman Wahdi di lapangan memperlihatkan akar masalah konservasi kerap berputar pada aspek perubahan sosial dan ekonomi masyarakat. Ketika lahan hutan beralih fungsi menjadi perkebunan atau permukiman, kebutuhan ekonomi warga lokal meningkat pesat. Situasi semacam ini membuat ruang hidup hewan liar makin sempit, sementara tekanan terhadap masyarakat lokal pun bertambah. Akibatnya, interaksi antara manusia dan hewan liar—seperti gajah di Sumatera—menjadi lebih sering dan rentan menimbulkan konflik.

Pola penanganan konservasi kerap mengandalkan pendekatan pembatasan dan perlindungan kawasan tanpa mempertimbangkan dinamika masyarakat lokal. Secara teori, strategi berbasis regulasi dan perlindungan ketat memang terlihat ideal. Namun, dalam kenyataan di lapangan, pendekatan ini menciptakan jarak sosial antara tujuan konservasi dan kehidupan warga. Masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan konservasi sering kali harus menghadapi pemangkasan akses lahan, peluang ekonomi yang dibatasi, serta ancaman konflik yang tidak mereka kehendaki.

Dalam keadaan inilah, konservasi terasa seperti beban tambahan bagi warga, bukan sebagai bagian dari solusi kehidupan. Wahdi lalu mengingatkan: manusia tidak sekadar berada di sekitar konservasi, melainkan merupakan bagian dari ekosistem itu sendiri. Karena itu, pelibatan masyarakat tidak bisa sekadar simbolik, melainkan harus terintegrasi secara penuh melalui penguatan aspek ekonomi lokal dan pendidikan masyarakat. Tanpa itu, urusan pelestarian lingkungan akan terus rapuh dan rawan terhadap perubahan.

Sudut pandang yang sama mulai mendapatkan tempat di wilayah lain Indonesia. Contohnya di lereng-lereng Mega Mendung, Bogor, di mana tekanan terhadap ruang terbuka dan hutan begitu tinggi sejalan dengan urbanisasi wilayah Jabodetabek. Di Mega Mendung, kawasan Arista Montana bersama Yayasan Paseban mengambil jalan berbeda. Mereka tidak memisahkan aktivitas manusia dengan program konservasi; sebaliknya, keduanya dijalankan secara simultan sebagai satu sistem ekologi-sosial yang berkelanjutan.

Model yang mereka kembangkan adalah pertanian organik berbasis komunitas. Proses produksi dan pemasaran sepenuhnya melibatkan petani lokal, yang dibekali pelatihan untuk melakukan pengelolaan pertanian ramah lingkungan. Dalam praktik seperti ini, kelestarian hutan dan ekosistem tidak lagi sekadar kewajiban moral atau kepatuhan regulasi, tetapi menjadi kebutuhan ekonomi langsung: produktivitas pertanian bergantung pada tanah dan ekosistem yang sehat.

Pergeseran ini mengubah posisi konservasi dari sebuah batasan menjadi pondasi ekonomi masyarakat. Namun, kunci keberhasilannya terletak pada pendidikan dan penguatan kapasitas warga. Yayasan Paseban berperan penting memberi pelatihan praktis agar masyarakat memahami sekaligus bisa menerapkan teknik pengelolaan sumber daya yang berkelanjutan. Edukasi tidak berhenti pada teori, melainkan dikembangkan menjadi keterampilan praktis—bagaimana memanfaatkan alam tanpa merusaknya.

Hasilnya, sadar atau tidak, masyarakat menjadi aktor utama dalam pelestarian alam sekaligus dalam pembangunan ekonomi lokal. Mereka bukan hanya objek dari regulasi, melainkan juga subjek yang berkepentingan langsung atas keberlanjutan ekosistem.

Pengalaman Arista Montana dan Yayasan Paseban di Mega Mendung pada akhirnya memperlihatkan benang merah dengan kasus Sumatera yang ditangani Wahdi Azmi. Dalam dua lingkungan yang berbeda, masalah mendasarnya sama: keberhasilan konservasi sangat bergantung pada integrasi kepentingan manusia—menghubungkan kebutuhan ekologis, ekonomi, dan sosial.

Di Sumatera, konflik terjadi karena keterbatasan ruang hidup baik untuk satwa maupun manusia. Di Mega Mendung, potensi konflik berhasil ditekan berkat integrasi konservasi ke dalam ekonomi dan kehidupan masyarakat. Kedua kasus ini memberi pelajaran bahwa ukuran keberhasilan konservasi tidak semestinya hanya berpatok pada jumlah kawasan yang dikelola, melainkan pada seberapa erat keterlibatan dan keterhubungan antara manusia dan alam.

Tantangan utama selama ini terletak pada keterbatasan kapasitas lokal. Banyak kebijakan lahir tanpa melibatkan masyarakat sejak awal dan tanpa menyediakan jalur manfaat ekonomi yang jelas bagi mereka. Ketika masyarakat disertakan mulai dari perencanaan, diberi pelatihan yang relevan, serta akses kepada sumber ekonomi baru, perlahan upaya konservasi menemukan pijakan yang kokoh dan lebih mudah diterima sebagai bagian dari kebutuhan bersama.

Inovasi dalam upaya konservasi tidak hanya dibutuhkan dalam konteks ekologis. Lebih dari itu, Indonesia perlu desain kebijakan yang sanggup menyatukan pertimbangan sosial, ekonomi, serta ekologi secara bersamaan. Konservasi harus ditempatkan dalam jalinan sistem yang lebih luas, di mana pelestarian lingkungan dan pembangunan ekonomi berjalan beriringan. Pengetahuan dan praktik menyatu, kebutuhan hidup dan kepentingan ekologi saling mendukung.

Selama hal ini belum tercapai, upaya konservasi cenderung defensif bahkan berpotensi gagal menghadapi gelombang perkembangan ekonomi. Tetapi bila integrasi dilakukan secara tepat dan menyeluruh, konservasi tidak hanya mempertahankan alam, melainkan juga membangun masa depan yang lebih lestari bagi seluruh anggota masyarakat.

Seperti ditekankan Wahdi Azmi, pertanyaan utama dalam konservasi bukan sekadar bagaimana menjaga alam tetap lestari, tetapi juga bagaimana membuat manusia merasa memiliki alasan dan kepentingan untuk terlibat merawatnya. Tanpa jawaban atas pertanyaan tersebut, setiap program konservasi hanya akan menjadi proyek jangka pendek yang sulit berkelanjutan.

Sumber: Wahdi Azmi Sebut Konservasi Harus Memberi Manfaat Bagi Masyarakat
Sumber: Dari Gajah Ke Mega Mendung, Ketika Konservasi Harus Menghidupi