Taufiqur Rahman Kritik Kebijakan Bupati Jember
Sekretaris Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Kabupaten Jember, Taufiqur Rahman, mengkritik kebijakan Bupati Jember yang dinilainya memberi tekanan berlebihan kepada para guru. Menurutnya, kebijakan tersebut tidak lazim dan cenderung memberikan ancaman kepada para pendidik.
Guru Merasa Ditekan
Taufiqur Rahman menyatakan bahwa banyak guru yang merasa tertekan dengan kebijakan yang diberlakukan. Mereka khawatir bahwa hal tersebut akan berdampak negatif pada karir mereka, terutama bagi guru P3K paruh waktu yang gajinya sudah minim. Ia juga menegaskan bahwa sebelumnya tak pernah ada ancaman sanksi seperti yang diberlakukan saat ini di Jember.
“Baru kali ini sepanjang sejarah Jember, guru ditekan sedemikian rupa. Kemaren, disuruh medata. Sekarang, diwajibkan menyebarkan konten. Berikutnya apalagi,” ujar Taufiqur Rahman.
Bupati Jember Meluruskan Informasi
Menanggapi kritik yang disampaikan, Bupati Jember, Gus Fawait, juga angkat bicara melalui unggahan akun TikTok-nya. Ia menegaskan bahwa tidak pernah menyuruh Aparatur Sipil Negara (ASN) untuk melakukan hal tersebut. Sebaliknya, ia hanya meminta agar masyarakat turut mempromosikan potensi dan program-program Kabupaten Jember.
Bupati juga menyinggung bahwa permintaan untuk mengunggah kegiatan Pemkab Jember bukanlah untuk kepentingan pribadi, melainkan untuk membanggakan daerah. Ia menilai adanya pemahaman yang keliru terkait tujuan dari permintaan tersebut.
Sanksi yang diterapkan oleh Pemerintah Kabupaten Jember juga tidak hanya menyasar guru, tetapi juga tenaga kesehatan dan sejumlah pejabat. Hal ini menimbulkan pro dan kontra di kalangan masyarakat Jember terkait kebijakan yang diterapkan.





