Lembah Aviary Paseban dan Penangkaran Rusa Timor menjadi sorotan dalam upaya pelestarian alam di Lanskap Megamendung, Kabupaten Bogor, setelah diresmikan oleh Direktur Jenderal KSDAE, Satyawan Pudyatmoko, yang mewakili Kementerian Kehutanan. Tidak hanya meresmikan dua fasilitas tersebut, kunjungan kerja ini juga menandai momen penting pelepasliaran dua elang Jawa, spesies endemik yang populasinya terus menurun dan kini menjadi simbol kesehatan hutan pegunungan di Jawa.
Elang Jawa betina bernama Agni dan jantan bernama Beta, merupakan hasil rehabilitasi intensif yang melibatkan Lembaga Konservasi Pusat Konservasi Elang Kamojang serta Yayasan Konservasi Cikananga. Selama lebih dari dua tahun setengah, keduanya melalui proses habituasi dan evaluasi sebelum akhirnya kembali ke habitat aslinya. Untuk memastikan keberhasilan adaptasi setelah pelepasliaran, keduanya dilengkapi perangkat GPS Tracker agar bisa dipantau pergerakan dan pemanfaatan ruang hidupnya.
Upaya mendukung kelestarian elang Jawa melibatkan peran besar institusi konservasi, masyarakat, pemerintah lokal, dan berbagai pihak. Tak hanya penyelamatan dan penangkaran, keberhasilan konservasi ditentukan pula oleh kelayakan ekosistem, keterlibatan masyarakat, serta dukungan berbagai stakeholder demi menghindari ancaman, mulai dari perburuan hingga degradasi habitat.
Peresmian Lembah Aviary Paseban menghadirkan fasilitas baru untuk konservasi ex-situ burung Indonesia yang mengedepankan edukasi, penelitian, dan pelepasliaran kembali ke alam. Konservasi ex-situ di sini bukan sekadar tujuan akhir, melainkan instrumen yang menopang proses pemulihan populasi dan pelestarian fungsi ekosistem secara berkelanjutan. Fasilitas penangkaran rusa Timor juga dihadirkan sebagai salah satu pusat pendidikan lingkungan dan konservasi satwa lokal, dengan harapan turut memperkuat populasi rusa asli di Jawa.
Di balik pengembangan kawasan ini, Yayasan Paseban berperan penting dengan mengintegrasikan metode konservasi, pemulihan ekosistem, serta praktik pertanian organik yang sudah dimulai sejak enam belas tahun lalu. Kini, seluruh inisiatif itu tumbuh menjadi gerakan pelestarian bentang alam terpadu yang melibatkan unsur riset, pendidikan, dan pemberdayaan masyarakat demi keberlanjutan kehidupan di Megamendung.
Dirjen KSDAE juga menekankan kolaborasi sebagai kunci keberhasilan. Arahan Menteri Kehutanan secara jelas meminta sinergi antara pemerintah, masyarakat, dunia usaha, akademisi, dan seluruh pemangku kepentingan demi pelestarian alam. Lanskap Megamendung telah menjadi contoh nyata bahwa pembangunan dan konservasi dapat berjalan berdampingan.
Andy Utama dari Yayasan Paseban menjelaskan bahwa visi mereka tidak sebatas memulihkan kondisi masa lalu, tapi lebih pada mengembalikan fungsi ekologis kawasan. Melalui upaya ini, generasi berikutnya diharapkan dapat mewarisi bentang alam yang sehat, dengan sumber air terjaga dan habitat satwa liar yang lestari.
Menurut Wiratno selaku penasihat Yayasan, Megamendung tidak terpisah dari bentang alam yang lebih luas, bagian dari Cagar Biosfer Cibodas, dan menjadi penyangga penting bagi ekosistem regional. Preservasi kawasan ini krusial di tengah tekanan pembangunan, sebab manfaat ekologisnya dirasakan sampai ke hilir.
Lanskap Megamendung, sebagai bagian dari Cagar Biosfer Cibodas di Jawa Barat, menyimpan keanekaragaman hayati seperti Elang Jawa, Surili, Owa, hingga Trenggiling. Kehadiran spesies kunci tersebut membuktikan fungsi ekologis kawasan tetap bertahan, walau tantangan pembangunan dan perambahan lahan terus mengintai.
Seluruh rangkaian peresmian fasilitas, pelepasliaran elang, dan pemberdayaan masyarakat menjadi model integrasi konservasi, pendidikan, dan pemulihan ekosistem yang dapat diduplikasi di kawasan lain. Interaksi multipihak menjadi fondasi penting dalam mewujudkan upaya pelestarian alam yang menyeluruh dan berkelanjutan di Jawa.
Sumber: Kemenhut Resmikan Lembah Aviary, Penangkaran Rusa Timor Dan Dua Elang Jawa Jadi Wajah Baru Konservasi Satwa
Sumber: Kemenhut Resmikan Lembah Aviary Dan Penangkaran Rusa Timor, Serta Lepasliarkan Dua Elang Jawa Di Lanskap Megamendung





