Ngertakeun Bumi Lamba XVIII Bangun Kesadaran Kolektif tentang Bumi

by -82 Views

Di tengah meningkatnya kerusakan lingkungan dan krisis iklim yang merebak, generasi sekarang memegang peran vital dalam menentukan arah masa depan bumi. Tanggung jawab besar ini bukan lagi sekadar pilihan, melainkan keharusan moral yang menuntut komitmen nyata dari seluruh masyarakat, tanpa memandang usia maupun latar belakang.

Ritual budaya Ngertakeun Bumi Lamba XVIII yang berlangsung di Taman Wisata Alam Gunung Tangkuban Parahu, Kabupaten Subang, Minggu (21/6), menjadi pengingat kuat atas kewajiban ini. Dengan membawa tema “Manik Maya, Ibu Bumi, Bapak Angkasa,” para tokoh adat, budayawan, serta aktivis lingkungan dari seluruh nusantara berkumpul untuk meneguhkan tekad kolektif merawat bumi. Prosesi khidmat tersebut memicu perenungan mendalam atas relasi manusia dan alam yang semakin teruji oleh tekanan zaman.

Andy Utama selaku Pembina Paseban Foundation menegaskan makna momentum ini dengan menyampaikan, “Tanpa langkah kita hari ini, esok hanya jadi khayalan.” Ungkapan tersebut menembus pemahaman bahwa keberlanjutan bumi terletak pada sikap dan aksi yang kita wujudkan saat ini.

Semangat untuk membangun jejaring etik lingkungan, bukanlah sesuatu yang tiba-tiba muncul, melainkan berakar dalam jejak pemikiran panjang di Indonesia dan dunia. Sejak 1970-an, Emil Salim memperlihatkan konsistensi dalam memperjuangkan keharmonisan antara ekonomi, kelestarian ekosistem, dan tatanan sosial. Gagasan pembangunan berkelanjutan menuntut agar generasi kini tidak mengorbankan hak generasi mendatang demi kepentingan sesaat.

Tidak hanya berhenti di tingkat nasional, prinsip menjaga keseimbangan ini juga mendapat penguatan dari teori keadilan antargenerasi milik Richard P. Hiskes. Pemikiran ini memberi tekanan bahwa masyarakat kini berkewajiban melakukan tindakan nyata demi generasi masa depan dapat menikmati lingkungan yang layak huni dan sehat. Ini menjadi panggilan untuk menanggalkan mentalitas manusia sebagai penguasa, lalu kembali menjadi pelindung dan penjaga harmoni alam.

Di titik inilah Andy dan Paseban Foundation membuktikan bahwa teori dan gagasan filosofi bisa bertransformasi dalam kerja nyata. Di kawasan Lanskap Megamendung, mereka menerapkan aksi-aksi konkret, mulai dari pengembangan pertanian organik berbasis ekosistem, pendirian pusat konservasi satwa, hingga gerakan penghijauan besar-besaran.

Langkah yang telah dicapai antara lain:

Pertanian Berkelanjutan: Merancang pola tanam organik yang selaras dengan siklus alam, serta berkontribusi dalam pengurangan emisi karbon.

Perlindungan Satwa: Pengoperasian pusat konservasi untuk burung dan satwa langka, penangkaran rusa lokal, serta pelepasan kembali Elang Jawa ke habitat aslinya.

Restorasi Hutan: Melibatkan masyarakat dalam penanaman puluhan ribu bibit dari ratusan jenis tanaman hutan lokal, membangun kembali keanekaragaman hayati di Megamendung.

Semua upaya tersebut merupakan manifestasi dari impian besar mengembalikan Megamendung kepada harmoni alami seperti yang pernah tercatat satu abad lampau.

Namun, perjalanan tersebut bukan hanya soal prestasi ekologis, melainkan membawa pesan yang lebih dalam mengenai tapak warisan yang akan kita tinggalkan setelah jiwa tak lagi bernafas. Andy menyoroti bahwa nilai kehidupan manusia diukur bukan dari seberapa banyak properti ataupun pengaruh yang digenggam, melainkan dari kontribusi yang nyata untuk menjaga keberlangsungan alam.

“Manusia akan diingat dari jejak yang mereka tinggalkan bagi kehidupan, bukan dari keberlimpahan yang sempat dimiliki,” tutur Andy menutup diskusi. Kata-kata itu menjadi kunci bahwa harta terpenting yang bisa diwariskan adalah bumi yang subur bagi generasi mendatang.

Dengan demikian, Ngertakeun Bumi Lamba tidak sekadar ritual adat, melainkan juga pesan lintas zaman: bahwa menjaga bumi hari ini adalah warisan tak ternilai untuk hari esok yang penuh harapan dan kehidupan.

Sumber: Ngertakeun Bumi Lamba XVIII: Tradisi Yang Menjadi Inspirasi Konservasi Modern
Sumber: Warisan Untuk Masa Depan: Belajar Menjaga Keseimbangan Alam Dari Ritual Ngertakeun Bumi Lamba XVIII