Andy Utama Tekankan Pentingnya Menjaga Habitat Satwa dan Sumber Air

by -128 Views

Keberadaan lima spesies primata paling langka di Pulau Jawa telah dipastikan bertahan di suatu kawasan pegunungan Megamendung, Bogor, oleh Paseban Foundation melalui riset ekologi yang berlapis, mulai dari survei lapangan hingga pemasangan kamera otomatis. Hasil penelusuran tersebut kemudian dipublikasikan dalam acara tahunan Paseban Foundation yang bertepatan dengan Hari Konservasi Alam Nasional—sebuah momentum penting menandai perjalanan dua tahun yayasan tersebut berkiprah menjaga lingkungan.

Wahdi Azmi selaku Direktur Eksekutif Paseban Foundation menyorot kepadatan manusia yang kian menekan ruang hidup satwa di negeri ini. Meski demikian, secara mengejutkan, kawasan Megamendung masih bisa mengakomodir kelima spesies primata khas Jawa dalam satu hamparan ekosistem. Penyatuan kelima primata dalam bentang alam yang terbatas mengukuhkan status kawasan ini sebagai zona penting pelestarian keanekaragaman hayati, sekaligus menunjukkan resistensi alam yang tersisa di tengah geliat pembangunan.

Observasi lanjutan juga menemukan bahwa Megamendung bukan hanya rumah bagi primata, melainkan juga bagi satwa karismatik seperti Elang Jawa, Macan Tutul Jawa, serta berbagai spesies flora dan fauna khas pegunungan tropis yang lain. Keberagaman ini mempertegas pentingnya integrasi kawasan tersebut ke dalam Cagar Biosfer Cibodas sebagai perlindungan jangka panjang.

Letak Megamendung yang strategis namun juga dekat dengan tekanan pembangunan menjadikannya sangat rentan terhadap fragmentasi habitat. Adapun pendekatan cagar biosfer mengedepankan kolaborasi antara perlindungan alam dan pemanfaatan lahan yang lestari, yang dipraktikkan melalui pembagian zona konservasi, penyangga, serta kawasan pemukiman di sekitarnya agar terjadi keseimbangan ekologis dan sosial.

Ekosistem Megamendung adalah jaringan relasi antara hutan, aliran sungai, aktivitas satwa, hingga wilayah bercocok tanam yang saling bergantung. Menurut Wiratno, penasihat yayasan, batas administratif wilayah tidak membatasi pergerakan alam; air dan satwa bebas melintasi garis khayal yang dibuat manusia. Inilah sebabnya mengapa kolaborasi multipihak menjadi kunci utama dalam menjaga keberlangsungan megamendung sebagai sistem ekologis yang utuh.

Implementasi nyata dari filosofi kolaborasi tersebut telah tampak lewat gerakan penghijauan—ditandai dengan penanaman lebih dari 21 ribu bibit pohon endemik hingga pertengahan Agustus 2026—sebagai pemulihan struktur hutan dan penyangga tata air alami Megamendung. Tidak berhenti sampai di situ, upaya konservasi kini juga menjangkau perlindungan satwa di luar habitat asal (ex-situ) melalui pengelolaan penangkaran non-komersial untuk burung dan mamalia.

Penangkaran ini sudah menunjukkan hasil, misalnya dengan lahirnya tiga anak rusa yang rencananya akan di-reintroduksi ke habitat alaminya di Megamendung. Namun, proses pelepasliaran satwa menuntut protokol ketat mulai dari rehabilitasi, pelatihan adaptasi, hingga pemantauan ekstensif agar keberadaan mereka tidak mengganggu keseimbangan lokal.

Andy Utama, pendiri Paseban Foundation, menegaskan bahwa agenda pemulihan ekosistem bukan pekerjaan sekejap. Ia menilai perlu visi lintas generasi untuk menghadirkan kembali daya dukung hutan, rantai makanan, kelestarian air, dan harmoni kehidupan manusia serta satwa. Dari sinilah tercetus inisiatif Megamendung Century Initiative, program jangka panjang memperbaiki fungsi ekologis seperti seratus hingga dua ratus tahun lalu.

Tujuan utama inisiatif ini bukan sekadar menggali masa lalu, melainkan memulihkan komponen-komponen kunci lanskap dan meningkatkan ketahanan bersama. Andy menekankan, kerja konservasi sifatnya estafet dan memerlukan ketabahan tanpa putus, agar dapat diwariskan pada generasi selanjutnya. Semua sambung-menyambung demi mewujudkan Megamendung yang lestari untuk waktu yang sangat panjang.

Sumber: 5 Primata Jawa Bertahan Di Megamendung, Paseban Foundation Dorong Pemulihan Ekosistem
Sumber: Kerap Terdesak Pemukiman, Lima Primata Jawa Ditemukan Hidup Bersama Di Alam Megamendung Bogor