Ribuan warga memadati Lapangan Desa Gumelem Wetan, Kecamatan Susukan, Kabupaten Banjarnegara, Jumat sore, 25 September 2026. Mereka menyaksikan dua pria berhadapan di tengah arena dan saling menyabetkan rotan ke kaki masing-masing dalam tradisi Ujungan.
Tradisi yang diwariskan masyarakat Desa Gumelem itu kembali digelar ketika warga menghadapi krisis air akibat kemarau panjang. Bagi masyarakat setempat, Ujungan bukan sekadar pertunjukan ketangkasan, melainkan ritual spiritual untuk memanjatkan doa agar hujan segera turun.
Rotan Dibolehkan Menyasar Paha hingga Kaki
Dalam pelaksanaannya, dua peserta bergantian memukulkan rotan ke bagian tubuh lawan. Ketua Adat Desa Gumelem Wetan, Budi Sulistyo, mengatakan para pemain yang masuk ke arena merupakan warga yang memiliki kemampuan sekaligus kegemaran mengikuti tradisi tersebut.
Menurut Budi, aturan Ujungan saat ini membatasi sasaran pukulan pada bagian paha hingga kaki. Ketentuan itu berbeda dengan praktik sebelum 1980, ketika pukulan masih dapat diarahkan ke bagian tubuh lain, termasuk kepala.
“Ini tradisi turun-temurun untuk memohon hujan. Harapannya Allah mengabulkan doa masyarakat Gumelem dan sekitarnya yang sedang mengalami kekurangan air,” ujar Budi.
Pelaksanaan Ujungan dimulai setiap Jumat Kliwon. Jika hujan belum turun, ritual dapat digelar kembali pada Jumat berikutnya hingga harapan masyarakat terpenuhi. Basiran, salah seorang peserta, mengatakan Ujungan dalam satu rangkaian dapat dilaksanakan hingga tiga atau empat kali.
Meski sabetan rotan tidak jarang menimbulkan luka dan darah, masyarakat memaknainya sebagai simbol kuatnya doa agar hujan datang. Basiran mengaku tidak gentar meskipun kakinya berkali-kali terkena pukulan hingga berdarah.
“Rasanya asyik saja. Tidak ada rasa sakit,” kata Basiran setelah menyelesaikan pertandingan.
Doa untuk Petani dan Pelestarian Budaya
Basiran berharap hujan turun setelah pelaksanaan Ujungan. Kemarau panjang, kata dia, telah menyulitkan petani memperoleh air untuk mengairi lahan pertanian.
“Harapannya setelah Ujungan ini hujan turun, supaya petani mudah mendapatkan air dan semuanya kembali enak,” ujarnya.
Budi menegaskan, pertarungan di dalam arena tidak meninggalkan permusuhan di antara para peserta. Hubungan mereka kembali seperti semula setelah ritual berakhir.
“Dendam hanya ada di dalam arena. Setelah selesai, semuanya kembali bersaudara,” katanya.
Pemerintah Kabupaten Banjarnegara menyatakan dukungan terhadap keberlanjutan tradisi tersebut. Sekretaris Daerah Banjarnegara Hendro Cahyono mengatakan Ujungan merupakan bagian dari warisan budaya daerah yang perlu dipertahankan.
“Kami harapkan tradisi ini terus diuri-uri agar tetap lestari. Pemkab melalui Dinas Pariwisata dan Kebudayaan terus melakukan pembinaan, dan Ujungan juga diusulkan sebagai warisan budaya tak benda,” ujar Hendro.





